Selasa, 10 Juli 2012

UNTUKMU SANG MENTARI

seutas nada melantun dalam gema..
tuliskan sedikit cerita tentang yang fana..
dulu kau tertawa menyimpan rahasia..
yang kini hampa memudar bagai diam seribu bahasa..

kelu lidah ku ter pasak
memandang temaram sosokmu dalam bayang
ku kini hanya bisa bersajak
seeakan kau akan kembali tertawa 

lantang suaramu tergiang
temani jiwa bagai mentari petang....
oh sarita.... bolehkah kami bertanya?
apa kini ada kata untuk bernyanyi
saat kau hanya ada untuk menjadi remah-remah memory

dulu ada warna diantara kita
saat kau menjadi riuh rendah suara tawa
sosokmu bagai desir nirwana
hidupmu penuh kisah temani kami bercanda

kau sang "cerita"
apa kau dengar kami bersuara?
bersenandung hampa merobek malam
karna kini bayangmu temaram


begitu lembut senyumu terbayang
luluhkan parang sang pejuang
tertekuk lutut mendengar cerita yang telah...."terusaikan"

menangislah duhai kawan...
taburi bumi merintih perih dengan air mata
untuk mengenang sang cerita
yang dulu buat kita tertawa

menangislah duhai cerita..
jadikan air matamu sungai di syurga..
kami hanya kembali diam seribu bahasa
layaknya dulu kau pernah fana

pergilah kau cerita
kau usai bagai melodi yang tak akan terlupa
namun senyummu bagai harpa yang terus menggema

selamat tinggal sarita amelia
biarkan kami disini menopang dunia yang penuh jelaga
selamat jalan oh kau sang mentari jiwa
hujan turun basuh kami dengan air mata
kau kini hanya cerita...

TO: SARITA AMELIA

Kamis, 05 Juli 2012

JATUH

pernah kah kau melihat daun terjatuh..?
melayang turun tinggalkan rimbun serak suara teman berbisik..
ku menanti saat angin merangkul membawa ku terhempas  merintih ke bumi
tinggalkan.. rimbun hijau yang sedang tertawa lirih

waktu menyeret diri ini tembus masa masa itu
saat burung bernyanyi di antara ratusan suara
ku rangkul bulu lembutnya dengan senyum gembira
tapi kini ku menanti angin membawaku terbang menjauh
terbaring dan mati

pernahkah kau melihat ku terjatuh..
tinggalkan lagu yang bernyanyi untuk datangnya perindu
saat ku berbisik dalam sunyi
ku menunggu kau disini
disini..
menunggu kau temani diri yang membusuk
menjadi lemah dan menguning untuk mati

purnama bersiul cinta
untuk para sang pujangga yang tersiksa
rentetan kata hanya tersirat untuk tak dimengerti
namun aku masih disini..
menunggu saat angin nyanyikan rindu
ku terguncang
menjerit rindukan bernyanyi bersama saat dia hempaskan rintik hujan
tetesnya embun menghibur saat diri bersiap di siksa mentari

ku rindu nyanyian sang burung
kepakan sayap rangkulku manja
katakan klise, semua akan baik baik saja...

namun ku disini menunggu
hanya mendengar suara detik waktu
terhempas dan berpeluh
tetes hujan bagai peluru
mengoyak raga yang dulu beduri perkasa
mentari keringkan nadi
saat harap ku menanti..

to: d.p

Rabu, 13 Juni 2012

JEJAK

sini.. mari kau ku ajak ber imajinasi
ku ajak kau untuk sedikit menjejaki paham yang kau tak mengerti
kemari.. mari kau ku ajak menapaki jalan jalan berpagar cemara
tempat para peri menceritakan puisi pada bunga yang manja

coba kau lihat saat burung burung itu menari, laksana diiringi denting suara harpa...
coba sekali ini jejakan kakimu di jalan mimpi..
perlahan saja
dan sapa rerumputan dengan tentram
lihat embun bagai kaca jatuh satu persatu, menyapa dedaunan dengan ceria
indah bukan?

oh knapa kau begitu keras kepala,
kenapa kau begitu sendu dengan logika yang mengrogoti
apa tidak ada lagi yang tersisa untuk senyum seketika
kenapa hanya memaki
begitu lemahkah kakimu untuk ikuti jejak sang imajinasi

senja turun menyapa
cerah jingga bagai jelaga
nyanyian akan mulai berganti
coba sedikit menanti..
ayo, jangrik mulai bercerita..
mari duduk dengar apa katanya

oh, kau tidak mengerti?
ini bukan memahami kawan
mereka memang tidak bicara
tapi mereka "merasa"
mereka merasa malam telah tiba,
sang mentari bergati redup cahaya bulan memandikan pohon cemara..
coba kau berdiri diantaranya, dan lihat, oh apa yang bermain disana

kenapa kau diam tak bicara?
apa kau tersesat?
aku selalu disini menemani
untuk mengjarkanmu sedikit lagi tentang imanjinasi

mari kita tunggu sejenak lagi
kuajarkan saat warna mulai bermain mata
saat fajar menyapa dan kicau burung di hutan ini  bagai cerita
apa kau merasa sepi?
apa kau merasa sepi saat pelangi bermandi embun pagi ?
apa kau merasa sepi saat cerita ini membwa kau kedalam cerita imajinasi?








Senin, 11 Juni 2012

KLISE...

 hujan turun, membasahi rumput, dan dedaunan. rintiknya berbunyi begitu parau..
sesatkan hati ini penuh tanya..
tanya akan akan nada yang lelah bernyanyi.
klise..
saat kau dengar kata kata yang terucap untuk tanyakan sesuatu..
klise saat kau jawab pertanyaan itu dengan otak
bagai racun ular yang tertanam dalm pembuluh nadi
yaa< aku bertanya
apa yang paling berharga?
keluarga?
ha ha ha
harta?
ha ha ha
wanita? pekerjaan?
KLISE..
hanya didikan yang membelit jalur fikiran fana
mari kita tanya, dan dengar jawab mereka..
KLISE
temaram bulan purnama, kau bersinar bagai pilu suara sang bayu
bisikan rintihan diantara remah remah yang tersisa..
ooh.. begitu SOMBONG kau berucap
LETIH kau meratap
kau ceritakan diri bagai duri dalam daging yang membusuk
kau berkata...
"AKU!!"
saat ku harapkan kata kata klise terurai bernyanyi bagai burung pada majikanya
kau berkata...
"AKU!!"
bukan keluarga, bukan wanita dan harta
apa ini klise? saat kau dengar jeritan hatimu
dimana definisimu
dimana guru guru keparat itu saat jasamu hanya bualan
"oh kata kata yang terdengar suram"
jawaban berhembus seperi nyanyian lemah seorang ibu yang sekarat
sekarat menceritakan kebenaran!!!
untuk hisap semua racun yang tertanam bagai akar pohon tua
mereka tak disini saat aku besandang mendali..
mereka tak disini saat ku letih menerpa hujan..
mereka tak disini saat ku mengemis berderai airmata
OH mereka tak disini saat darah bercucuran
MEREKA TAK DISINI SAAT SAMPAH INI BERMANDI PERIH
kemana arti kata klise yang kau tanamkan ke pembuluh nadi ini sejak kecil tuan?
kau biarkan diri ini terjerat akar iri melihat pangeran yang tak kenal hujan dan panas?
merobek jiwa ini menjadi serpihan saat kau bohongi dan siksa
aku ingin kau nyanyikan kejujuran
jangan kau bercerita dan menjilat
kau pecut dan kau minta maaf dengan bentakan
OH TUAN.. kau sungguh...
 klise....







Kamis, 07 Juni 2012

TOPENG



Hari demi hari ku telanjangi dengan belati
Melilitkan dedalu berduri di antara derap langkah perih ku merintih
Palsukan airmata menjadi alunan lagu tersenyum menyinari
Menjadi alunan harpa tersimpan membendung di dalam diri
Tertimbun bagai duri dalam jerami

Bacakanlah aku cerita
Jangan kau diam tapi membahana
Nyanyikan aku melodi
Jangan  kau bersenandung  tapi kau jilat kembali

Gelap kujalani bagai mentari
Palsukan airmata, anggap hanya fatamorgana
Mimbisik palsu pada luka, “hey..” kau akan terobati
Saat ku tersenyum menyeret kaki  diantara ribuan belati datang silih berganti

Detik, demi detik mengalun
Bertanya akan siapa diri
Haruskah ku membenci
Menjadi siapa ku hari ini
Saat mentari berganti menjadi sang perindu
Ku kembali berlari...
Menjilati luka yang yang tertoreh hari ini..

SATU DEMI SATU

HARI ITU.. ya hari itu, harapan demi harapan.. detik demi detik, ku habiskan merekayasa masa depan untuk kami jalani.. HARI ITU,  ya HARI itu.. saat kau kutunggu untuk berkata "iya" iya untuk ku ingat dalam segala detak jantung dan derak resah nafasku.. kau paksa aku melebihi fungsi. paksa aku mengikis wajah lelah menjadi guratan senyum.. untuk apa? untuk buat kau bahagia.. untuk apa? utuk tuan putri agar kau selalu dapat yang kau inginkan, untuk kau tuan putri ku bohongi diri..
HARI ITU.. ya hari itu.. perlahan waktu lenyapkan jati diri.. teman tertinggal hanya menjadi sampah belaka, diri terhujam belati melihat senyum yang tak pernah terpuaskan.. namun ku redam dengan lirik dan melodi untuk jadikan sekedar mimpi. 
HARI ITU, ya HARI itu... sadar kah kau senyummu yang berharga dahulu lelah ku perjuangkan.. km demi km ku lewati.. untuk apa? untuk terus mendengar ocehan egois dan guna guna  yang kau letakan di atas kepala..
jumat itu kini sirna.. hanya bekas tertoreh yang kau lukai berkali... LUKA DI SIRAM TUBA..
tak urung ku berbohong untuk sekedar buat kau tersenyum, senyum yang ku tau tak akan kau pernah simpan dalam memori, sampai kutanya pada diri.. SAMPAI KAPAN DUHAI TUAN PUTRI.. ku hanya sekedar bermimpi.
kini hari hari itu telah pergi, tinggalkan sedikit luka yang hanya tertoreh beberapa inci
kini hari hari itu telah pergi, saat ku nyanyikan lagu pengantar tidur dan puisi
untuk kau oh tuan putri..!!